Tampilkan postingan dengan label majapahit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label majapahit. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2011

MAJAPAHIT : BHINNEKA TUNGGAL IKA

Majapahit MadaniMajapahit dengan konsep Negara Kesatuan-nya telah diuraikan dalam artikel terdahulu, motivasi menuju Negara Kesatuan versi Majapahit ini adalah berkat Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada. Selanjutnya dalam artikel ini akan sedikit diuraikan fakta-fakta negara kesatuan dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika yang terdapat di dalam lingkungan kota raja Majapahit.

Adalah kitab (kakawin) Sutasoma gubahan Mpu Tantular yang ditulis pada masa keemasan kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan raja Sri Rajasanagara (Dyah Hayam Wuruk),  yang diperkirakan ditulis antara tahun 1365 M hingga 1389 M, dan merupakan kakawin yang lebih muda dibandingkan dengan kakawin Negarakertagama.

READ MORE....>>>

Minggu, 15 Mei 2011

PERLUASAN WILAYAH KERAJAAN MAJAPAHIT (1)

Majapahit MadaniMajapahit terletak di lembah sungai Brantas di sebelah Tenggara kota Mojokerto, di daerah Tarik, sebuah daerah kecil di persimpangan Kali Mas dan Kali Porong. Konon pada akhir tahun 1292 tempat itu masih merupakan hutan belantara, penuh dengan pohon-pohon maja seperti kebanyakan tempat-tempat lainnya di lembah sungai Brantas. Berkat kedatangan orang-orang Madura, yang sengaja dikirim ke sana oleh Adipati Wiraraja dari Sumenep, hutan tersebut berhasil ditebangi dan dijadikan perladangan, dihuni oleh orang-orang Madura, pelarian dari Singosari dan pengikut-pengikut setia Sanggramawijaya, serta dinamakan Majapahit (desa).


READ MORE....>>>

Jumat, 13 Mei 2011

JEJAK-JEJAK ISLAM PADA MASA MAJAPAHIT

Tulisan ini akan sedikit menguak tentang jejak-jejak agama Islam pada masa kerajaan Majapahit  yang akan diuraikan sesuai dengan pengetahuan serta pengamatan penulis. Tersebutlah kompleks makam Tralaya yang terletak di wilayah  Dukuh Sidodadi, Sentonorejo, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, yang pada hakekatnya adalah merupakan kompleks pemakaman Islam pada jaman Majapahit, dan berada di dalam wilayah kota raja Majapahit.


READ MORE....>>>

SRI KERTARAJASA JAYAWARDHANA (2)

Dari pengikut-pengikut Kertarajasa yang disebutkan dalam Kitab Pararaton dan Kitab Kidung, ada beberapa yang kita jumpai kembali di dalam prasasti-prasasti, yaitu Wiraraja sebagai mantri mahawiradikara, Pu Tambi (Nambi) sebagai rakryan mapatih, dan Pu Sora sebagai rakryan apatih di Daha. Jadi Nambi telah memperoleh kedudukan yang tinggi dalam hierarkhi kerajaan Majapahit, sedang Sora menduduki tempat ke dua. Sumber lain mengatakan bahwa Wenang atau Lawe diangkat sebagai amanca nagara  di Tuban dan adhipati di Datara. Pemimpin pasukan ke Melayu dijadikan panglima perang dengan mendapat nama Kebo Anabrang.

Tetapi rupa-rupanya ada juga yang tidak puas dengan kedudukan yang diperolehnya, dan hal ini merupakan sumber timbulnya pemberontakan-pemberontakan dalam dua dasa warsa yang pertama dari kerajaan Majapahit. Pertama, Rangga Lawe menyatakan tidak puas terhadap raja, mengapa bukan dia sendiri atau Sora yang dijadikan Patih di Majapahit (bahwa yang diangkat oleh Kertarajasa sebagai Patih di Majapahit adalah Nambi, dan bukan orang lain, tentulah berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang sesuai dengan kitab-kitab penuntun yang ada, antara lain Kitab Nawanatya, yang berisi uraian tentang pejabat-pejabat kerajaan, kewajiban mereka, dan syarat-syarat apa yang harus dipenuhi untuk dapat diangkat dalam jabatan tertentu, di dalam kitab tersebut antara lain dikatakan bahwa seorang Patih Amangkubumi tidak hanya harus gagah berani dalam peperangan, tetapi juga harus paham segala cabang ilmu pengetahuan, adil, bijaksana, pandai berdiplomasi, membina persahabatan, mementingkan kepentingan orang lain, tidak takut dikritik dan lain sebagainya, sedang sumber lain menyebutkan bahwa Rangga Lawe ialah seorang yang lekas naik darah dan kasar tabiatnya).

Karena itu Rangga Lawe pulang ke Tuban dan menghimpun kekuatan, usaha Wiraraja (ayahnya) untuk menginsyafkan tidak berhasil. Muncullah kemudian tokoh yang akan merupakan biang keladi dari semua kerusuhan di Majapahit yaitu Mahapati. Dialah yang mengadu kepada raja bahwa Lawe akan memberontak, maka pertempuran antara pasukan Lawe dan pasukan raja-pun berkobarlah. Peperangan ini terjadi pada tahun 1295. Dalam pertempuran tersebut Lawe gugur di tangan Kebo Anabrang tetapi kemudian Kebo Anabrang di bunuh dari belakang oleh Lembu Sora, karena ia tidak tahan melihat kematian bekas sahabatnya dalam duka nestapa. Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Mahapati untuk menyingkirkan Lembu Sora serta menganjurkan agar Lembu Sora diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Berat bagi raja untuk memberi hukuman kepada Sora mengingat jasa-jasanya di masa lalu, tetapi dengan segala tipu muslihatnya Mahapati dapat memaksakan pertempuran antara pasukan Lembu Sora melawan pasukan raja pada tahun 1298 - 1300. Sora terbunuh bersama dengan pengikut-pengikutnya yaitu Juru Demung dan  Gajah Biru. Setelah Sora mati terbunuh, maka Nambi yang akan dijadikan sasaran oleh Mahapati, rupa-rupanya Mahapati sendiri mengincar kedudukan sebagai  patih amangkubumi.

Nambi mengetahui maksud jahat Mahapati, dan ia tahu Mahapati sedang mendapat kepercayaan dari raja, maka ia merasa lebih baik menyingkir saja dari Majapahit. Kebetulan memang ada alasan, yaitu ayahnya (Wiraraja) sedang sakit, maka ia meminta ijin kepada raja untuk menengok ayahnya di Lumajang.
Tetapi sementara itu raja meninggal pada tahun 1309, beliau di candikan di Antahpura dengan arca Jina dan di Simping (Sumberjati, Blitar) dengan arca Siwa. Pada faktanya di Candi Simping (Sumberjati) telah ditemukan sebuah arca perwujudan yang menunjukkan laksana campuran antara Siwa dan Wisnu (Harihara) yang diperkirakan merupakan arca perwujudan Kertarajasa.
READ MORE....>>>

SRI KERTARAJASA JAYAWARDHANA (1)

Sri Kertarajasa Jayawarddhana adalah nama gelar Nararya Sanggramawijaya (Wijaya) yang telah berhasil mendirikan kerajaan Majapahit sekaligus menjadi raja Majapahit yang pertama, memerintah dari tahun 1293 - 1309 M. Beliau adalah keturunan kerajaan Singhasari, putera Dyah Lembu Tal, cucu Narasinghamurti sekaligus menjadi menantu raja Kertanegara. Beliau memiliki empat permaisuri, yaitu Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari, Sri Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Sri Jayendradewi Dyah Dewi Prajnaparamita dan  Sri Rajendradewi Dyah Gayatri. Dengan parameswari Tribhuwaneswari beliau memperoleh seorang anak laki-laki bernama Jayanagara (keterangan ini terdapat di dalam prasasti Sukamrta dan prasasti Balawi), dan sebagai putera mahkota ia mendapat Kadiri (Daha) sebagai daerah lungguhnya. Kitab Negarakertagama dalam pupuh XLVII/2 menjelaskan ' ....tersebut tahun saka tujuh orang dan surya (1217), baginda (Wijaya) menobatkan putranya di Kediri, perwira, bijak, pandai, putera Indreswari, bergelar Sang raja putera Jayanagara ...'. Indreswari ini lebih layak dianalogikan dengan Tribhuwaneswari, sang permaisuri yang pertama.

Kitab Pararaton di dalam bagian yang ke VII dan VIII menyebutkan lain, yaitu Jayanegara adalah nama gelaran, sedang nama kecilnya adalah Kalagemet anak Wijaya dengan Dara Pethak (seorang puteri Melayu) hasil dari ekspedisi Pamalayu.
Selanjutnya dengan permaisuri Rajendradewi Dyah Gayatri, Wijaya memperoleh dua orang puteri yang bernama Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwarddhana yang menjadi Rani Jiwana (Bhre Kahuripan) 
dan yang kedua bernama Rajadewi Maharajasa yang menjadi Rani Daha (Bhre Daha).
Kidung Panji Wijayakrama mengisahkan bahwa sepuluh hari sesudah pengusiran tentara Mongol (Cina/Tartar), Mahisa Anabrang yang memimpin ekspedisi ke Melayu pada tahun 1275 (atas perintah Kertanegara) pulang membawa dua orang puteri yang bernama Dara Jingga dan  Dara Petak. Tentang Dara Petak diceritakan sang anwam inapti artinya yang muda diperistri (oleh Wijaya). Tentang Dara Jingga dikisahkan sira alaki dewa artinya ia menikah dengan orang yang bergelar dewa (Mauliwarma). Selanjutnya Pararaton memberitakan bahwa Dyah Dara Jingga melahirkan seorang putera yang kemudian menjadi raja Melayu bernama Tuanku Janaka Warmadewa alias Mantrolot. Tuanku Janaka Warmadewa dapat disamakan dengan Sang Adityawarman yang bergelar Udayadityawarman Prataparakramarajendra Mauliwarmadewa dan mendirikan kerajaan Melayu di Pagar Ruyung pada pertengahan abad 14.

Menurut piagam Bukit Gombak O.J.O CXXI ayahnya bernama Adwayadwaja,  nama ini dapat dihubungkan dengan Adwayabrahma, mahamentri Singasari yang diutus mengantarkan arca Amoghapasa, hadiah Wiswarupakumara kepada raja Suwarnabhumi Tribuwanaraja Mauliawarmadewa  pada tahun 1286 oleh raja Kertanegara. Arca Amoghapasa ditempatkan di daerah Dharmasraya, Suwarnabhumi Tribuwanaraja Mauliawarmadewa adalah nenek Adityawarman dan Jayanegara yang sama-sama dididik di istana Majapahit. Pada tahun 1325 dan 1332 Adityawarman menjadi utusan Majapahit ke negeri Cina, namanya disebut Seng k'ia-lie-yu-lan. 

Pengikut-pengikut Kertarajasa yang setia dan berjasa dalam perjuangan mendirikan Majapahit diberi kesempatan untuk menikmati hasil perjuangannya dan diangkat menjadi pejabat-pejabat tinggi di kerajaan.

Selanjutnya, silahkan baca di  bagian ke dua
READ MORE....>>>

Kamis, 12 Mei 2011

CANDI MAKAM JAMAN MAJAPAHIT

Kitab Negarakertagama dalam Pupuh LXXIII pada point yang ke 3 menyebutkan "Jumlah candi makam raja (Majapahit) seperti berikut, mulai dengan Kagenengan, disebut pertama karena tertua, Tumapel, Kidal, Jajagu, Wedwawedan (di Tuban), Pikatan, Bakul, Jawa-jawa, Antang Trawulan, Kalang Brat dan Jago, lalu Balitar, Sila Petak, Ahrit, Waleri, Bebeg, Kukap, Lumbang dan Puger".

Selanjutnya di dalam pupuh XXXVII menyajikan uraian tentang candi makam Kagenengan demikian "Tersebutlah keindahan candi makam, bentuknya tidak bertara, pintu masuk terlalu lebar lagi tinggi, dari luar bersabuk, di dalam terbentang halaman dengan rumah berderet di tepinya, ditanami aneka ragam bunga : tanjung, nagasari dan sebagainya, menaranya lampai, menjulang tinggi seperti gunung Meru di tengah-tengah, sangat indah, di dalam candi ada arca dewa Siwa, sebagai lambang raja yang dipuja di situ, ialah datu-leluhur raja Majapahit yang disembah di seluruh dunia".


READ MORE....>>>

Selasa, 10 Mei 2011

PERLUASAN WILAYAH KERAJAAN MAJAPAHIT (5)

Mengenai pulau-pulau di sebelah Timur Jawa, pertama-tama disebutkan pulau Bali yang telah ditundukkan pada tahun 1343, berikutnya pulau Lombok atau Gurun, yang dihuni oleh suku Sasak. Kedua pulau ini hingga sekarang menunjukkan adanya pengaruh kuat dari Majapahit, sehingga penguasaan Majapahit atas Bali dan Lombok tidak diragukan lagi. Kota Dompo yang terletak di pulau Sumbawa, menurut Negarakertagama pupuh LXXII/3 dan kitab Pararaton telah ditundukkan oleh tentara Majapahit di bawah pimpinan Mpu Nala pada tahun 1357. Penemuan prasasti Jawa dari abad empat belas di pulau Sumbawa (G.P. Rouffaer, Notulen van de Directie-vergaderingen van het Bataviaasch Genootschap, 1910, hal. 110-113 ; F.H van Naersen “Hindoe-Javaansche overblijfselen op Sumbawa” T.K.N.A.G, 1938, hal. 90), memperkuat pemberitaan Negarakertagama dan Pararaton di atas, sehingga penguasaan Jawa atas pulau Sumbawa tak dapat disangsikan lagi. Prasasti tersebut adalah satu-satunya yang pernah diketemukan di kepulauan di luar Jawa. Rupanya Dompo dijadikan batu loncatan bagi Majapahit untuk menguasai pulau-pulau kecil lainnya di sebelah Timur sampai Wanin di pantai Barat Irian.

Berbeda dengan di Sumatera dan Kalimantan, di daerah sebelah Timur Jawa, kecuali di Bali dan Lombok, tidak ada hikayat-hikayat daerah, oleh karenanya juga tidak terdapat dongengan tertulis tentang hubungan Majapahit dengan daerah-daerah tersebut.

Daerah-daerah di luar Jawa yang dikuasai oleh Majapahit pada pertengahan abad keempatbelas sebagaimana yang diberitakan oleh Negarakertagama dalam pupuh XIII dan XIV adalah seperti berikut ini  :

  1. Di Sumatera : Jambi, Palembang, Dharmasraya, Kandis, Kahwas, Siak, Rokan, Mandailing, Panai, Kampe, Haru, Temiang, Parlak, Samudra, Lamuri, Barus, Batan, Lampung.
  2. Di Kalimantan (Tanjung Pura) : Kapuas, Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Singkawang, Tirem, Landa, Sedu,  Barune, Sukadana, Seludung, Solot, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjung Kutei, Malano.
  3. Di Semenanjung Tanah Melayu (Hujung Medini) : Pahang, Langkasuka, Kelantan, Saiwang, Nagor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang, Kedah, Jerai (Kesah Raja Marong Mahawangsa, Penerbitan Pustaka Antara, Kuala Lumpur 1965, hal. 79. “Akan pulau Serai itu pun juga hampirlah sangat bertemu dengan tanah darat besar ; maka akhirnya itulah yang disebut orang Gunong Jerai karena ia tersangat tinggi”’ Lihat juga Paul Wheatly, The Golden Khersonese, hal. 261).
  4. Di sebelah Timur Jawa : Bali, Badahulu, Lo Gajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Dompo, Sapi, Gunung Api, Seram, Hutan Kadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Maluku, Wanin, Seran, Timor.

READ MORE....>>>

PERLUASAN WILAYAH KERAJAAN MAJAPAHIT (4)

Mengenai penundukan beberapa tempat di Tanjungpura atau Kalimantan terdapat pemberitaannya dalam Sejarah Dinasti Ming (Groeneveldt, W.P, Notes on the Malay Archipelago and Malacca, compiled from Chinese source VBG XXXIX, 1880. Cetakan ulang : Historical Notes on Indonesia and Malaya, Bhatara, Jakarta, 1960. hal. 112-113), yang kiranya patut dipercaya seperti berikut ini :
“Kaisar Cina mengeluarkan pengumuman tentang pengangkatan Hiawang sebagai raja Pu-Nie untuk menggantikan ayahnya. Hiawang dan pamannya konon memberitahukan bahwa kerajaannya setiap tahun mempersembahkan upeti sebanyak 40 kati kapur barus kepada raja Jawa. Mereka mohon agar Kaisar suka mengeluarkan pengumuman tentang pembatalan upeti tersebut, agar upeti tersebut dapat di kirim ke istana Kaisar …”.

Pu-Nie biasa disamakan dengan Brunei, di bagian Kalimantan, dengan demikian jelaslah bahwa Brunei adalah merupakan kerajaan bawahan Majapahit pada pertengahan kedua abad empatbelas. Hal ini sesuai dengan pemberitaan kakawin Negarakertagama dalam pupuh XIV/1 yang menyebut Barune.

Penyebutan Kutei, dibagian Timur Kalimantan, terdapat dalam pupuh XII/1 sebagai Tanjung Kutei. Hubungan antara Kutei dan Majapahit diberitakan dalam Silsilah Kutei (Silsilah Kutei diterbitkan oleh Dr. C.A. Mees sebagai thesis Universitas Leiden di bawah judul De Kroniek van Kutei, Santpoort, 1928), sebagai berikut  :
“Kemudian Maharaja Sultan dan Maharaja Sakti berangkat ke Majapahit untuk mempelajari tatanegara Majapahit. Ikutlah bersama mereka ialah Maharaja Indra Mulia dari Mataram. Tersebut perkataan Maharaja Sultan dua bersaudara di Majapahit. Mereka diajarkan tata-cara di Keraton dan adat yang dipakai oleh segala menteri. Tidak beberapa lama merekapun kembali ke Kutei. Sebuah keraton yang menurut tata-cara Jawa pun di dirikan. Sebuah pintu gerbang yang dibawa pulang dari Majapahit dijadikan hiasan keraton ini …..”.
Dongengan tersebut jelas menunjukkan hubungan antara Kutei dan Majapahit yang mungkin sekali bertarikh dari pertengahan abad empat belas, di masa kejayaan Majapahit.

Hubungan Banjar dan Kota Waringin di Kalimantan Selatan dengan Majapahit, diberitakan dalam Hikayat Banjar dan Kota Waringin (Hikayat Banjar dan Kota Waringin diterbutkan oleh Dr. A.A. Cense sebagai thesis Universitas Leiden di bawah judul De Kroniek van Bandjarmasin, Santpoort, 1928 ; dan oleh Dr. J.J. Ras di bawah judul Hikayat Banjar, The Haque, 1968), dalam bentuk perkawinan antara Puteri Junjun Buih, anak pungut Lembu Mangurat dan Raden Suryanata dari Majapahit seperti berikut : “Adapun raja Majapahit itu sesudah beroleh anak yang keluar dari matahari ini, masih beroleh enam anak lainnya dan negeri pun terlalu makmur. Maka pada keesokan harinya Lembu Mangurat pun berangkat ke Majapahit dengan pengiring yang banyak sekali. Sesampainya di Majapahit, Lembu Mangurat diterima dengan baik. Permintaan Lembu Mangurat akan Raden Putra sebagai suami Puteri Junjung Buih juga dikabulkan. Maka kembalilah Lembu Mangurat ke negerinya, pesta besar-besaran disediakan untuk mengawinkan Puteri Junjung Buih dengan Raden Putera. Sebelum perkawinan dilangsungkan, suatu suara ghaib meminta Raden Putera menerima mahkota dari langit. Mahkota itulah yang akan meresmikan Raden Putera menjadi raja secara turun-temurun. Hanya keturunannya yang diridhai Allah yang boleh memakai mahkota itu. Maka pesta perkawinanpun berlangsunglah. Adapun nama Raden Putera yang sebenarnya adalah Raden Suryanata  (makamnya dapat diketemukan di kompleks Kubur Pitu, Trowulan) yang artinya Raja Matahari ..”.

Selanjutnya silahkan membaca bagian akhir

READ MORE....>>>

PERLUASAN WILAYAH KERAJAAN MAJAPAHIT (3)

Sejarah Melayu (Sejarah Melayu, edisi Shellabear, Kisah II) mencatat dongengan tentang kejayaan serbuan Tumasik oleh tentara Majapahit berkat pembelotan seorang pegawai kerajaan yang bernama Rajuna Tapa. Konon sehabis peperangan, Rajuna Tapa kena umpat sebagai balasan pengkhianatannya dan berubah menjadi batu di sungai Singapura, rumahnya roboh dan beras simpanannya menjadi tanah. Dongengan tersebut mengingatkan kita kepada serbuan Tumasik oleh tentara Majapahit pada sekitar tahun 1350, karena Tumasik termasuk ke dalam program politik Gajah Mada dan tercatat dalam daftar daerah bawahan Majapahit seperti diungkapkan dalam kakawin Negarakertagama pupuh XIII.

Kerajaan Islam Samudra Pasai di Sumatera Utara juga tercatat sebagai daerah bawahan Majapahit. Dongengan romantis tentang serbuan Pasai oleh tentara Majapahit diberitakan dalam Hikayat Raja-Raja Pasai (Hikayat Raja-Raja Pasai, 1819, disalin dengan huruf Romawi oleh J.P. Mead dalam JMBRAS no. 66; dibicarakan oleh J.L.A. Brandes dalam Pararaton, 1896 ; dibahas oleh R.O. Winstedt dalam karangan “The Chronicles of Pasai”, JMBRAS vol. XVI, 1938 ; oleh Dr. R. Roolvink dalam karangan “Hikayat Raja-Raja Pasai” di Majalah Bahasa dan Budaya, vol. II, no. 3, 1954 ; oleh Prof. A. Teeuw dalam karangan “Hikayat Raja-Raja Pasai”, di Malayan and Indonesian Studies, Oxford, 1964), berikut ini :
“Pada pemerintahan Sultan Ahmad di Pasai, puteri Gemerencang dari Majapahit jatuh cinta kepada Abdul Jalil, putera raja Ahmad, hanya karena melihat gambarnya. Oleh karena itu ia berangkat ke Pasai dengan membawa banyak kapal. Sebelum mendarat terdengar kabar bahwa Abdul Jalil telah mati, dibunuh oleh ayahnya sendiri. Karena kecewa dan putus asa, puteri Gemerancang berdoa kepada Dewa, agar kapalnya tenggelam. Doa itu dikabulkan. Mendengar berita tersebut, Sang Nata Majapahit murka, lalu mengerahkan tentara untuk menyerang Pasai. Ketika tentara Majapahit menyerbu Pasai, Sultan Ahmad berhasil melarikan diri, namun Pasai dapat dikuasai dan diduduki”.

Seperti telah disinggung di atas, ekspedisi ke Sumatera ini mungkin sekali dipimpin oleh Gajah Mada sendiri, karena ada beberapa nama tempat di Sumatera Utara yang mengingatkan serbuan Pasai oleh tentara Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada, dan dongengannya memang ditafsirkan demikian oleh rakyat setempat (H.M. Zainuddin, Tarich Acheh dan Nusantara, Bab XVII, hal. 220-236). Tempat-tempat tersebut misalnya : sebuah bukit di dekat kota Langsa bernama Manjak Pahit (Majapahit). Menurut dongengan tentara Majapahit membuat benteng di atas bukit itu dalam persiapan menyerang Temiang. Berikutnya, rawa antara Perlak dan Peudadawa bernama Paya Gajah (Gajah Mada), karena menurut dongengan rawa itu dilalui oleh tentara Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada dalam perjalanan menuju Lhokseumawe dan Jambu Air, yang menjadi sasaran utama serangannya. Bukit Gajah yang terletak di pedalaman disebut demikian karena setelah mendarat, Gajah Mada beserta tentaranya langsung bergerak menuju bukit itu. Bukit di dekatnya bernama Meunta, perubahan dari nama Mada, karena di situlah tempat Gajah Mada membuat persiapan untuk menyerang Pasai. Demikianlah beberapa nama tempat-tempat di Sumatera Utara yang agak mirip dengan nama Gajah Mada dan Majapahit, oleh karena itu mengingatkan peristiwa sejarah di sekitar tahun 1350 yakni serbuan Pasai oleh tentara Majapahit.

Selanjutnya silahkan baca bagian keempat

READ MORE....>>>

PERLUASAN WILAYAH KERAJAAN MAJAPAHIT (2)

Baru setelah Jawa Timur dikuasai penuh, Majapahit mulai menjangkau pulau-pulau di luar Jawa, yang disebut Nusantara. Menurut Pararaton, politik perluasan wilayah seluruh Nusantara ini bertalian dengan program politik Gajah Mada yang diangkat menjadi patih Amangkubumi pada sekitar tahun 1334. Untuk menjayakan program politiknya tersebut, para pembesar Majapahit yang tidak menyetujui disingkirkan oleh Gajah Mada. Pelaksanaan program politik penyatuan Nusantara ini rupanya baru dimulai pada tahun 1343 dengan penundukkan Bali, pulau yang paling dekat dengan pulau Jawa. Selanjutnya diantara tahun 1343 – 1347, Pu Adityawarman meninggalkan pulau Jawa untuk mendirikan kerajaan Malayapura di Minangkabau, Sumatera, seperti diberitakan dalam prasasti Sansekerta pada arca Amoghapasa tahun 1347. Dalam prasasti tersebut diuraikan bahwa Pu Adityawarman bergelar Tuhan Patih (gelar sebutan Tuhan Patih dalam prasasti Amoghapasa, 1347, menunjukkan bahwa Adityawarman menjalankan pemerintahan di kerajaan Malayapura atas nama raja Majapahit Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani).

Berita Cina dari Dinasti Ming (Groeneveldt, W.P, Notes on the Malay Archipelago and Malacca, compiled from Chinese source VBG XXXIX, 1880. Cetakan ulang : Historical Notes on Indonesia and Malaya, Bhatara, Jakarta, 1960. hal. 69) menyatakan bahwa pada tahun 1377 Suwarnabhumi (Sumatera) diserbu oleh tentara Jawa. Putera Mahkota Suwarnabhumi tidak berani naik tahta tanpa bantuan dan persetujuan kaisar Cina, karena takut kepada raja Jawa. Kaisar Cina lalu mengirim utusan ke Suwarnabhumi untuk mengantarkan surat pengangkatan, namu di tengah jalan dicegat oleh tentara Jawa dan dibunuh seketika. Meskipun demikian Kaisar Cina tidak melakukan tindakan balasan terhadap raja Jawa, karena mengakui bahwa tindakan balasan tidak dapat dibenarkan. Sebab utama serbuan tentara Jawa (ke Suwarnabhumi) pada tahun 1377 tersebut adalah karena raja Suwarnabhumi telah mengirim utusan ke Cina pada tahun 1373 tanpa sepengetahuan raja Jawa.  Pengiriman utusan tersebut dipandang sebagai suatu pelanggaran terhadap status kerajaan Suwarnabhumi yang sebenarnya adalah merupakan kerajaan bawahan Majapahit. Tarikh penundukan Suwarnabhumi terhadap Majapahit terjadi pada sekitar tahun 1350 ; keruntuhannya mengakibatkan jatuhnya daerah-daerah bawahannya di Sumatera dan di semananjung Tanah Melayu ke dalam kekuasaan Majapahit. Dua belas kerajaan Suwarnabhumi yang jatuh ke tangan Majapahit adalah : Pahang, Trengganu, Langkasuka, Kelantan, Woloan, Cerating, Paka, Tembeling, Grahi, Palembang, Muara Kampe dan Lamuri. Hampir semua daerah-daerah tersebut dinyatakan sebagai daerah-daerah bawahan Majapahit seperti ternyata dalam kakawin Negarakertagama pupuh XIII dan XIV. Daftar itu menyebut juga nama-nama daerah bawahan lainnya. Rupanya Palembang dijadikan batu loncatan bagi tentara Majapahit untuk menundukkan daerah-daerah lainnya di sebelah Barat pulau Jawa. Namun di daerah–daerah ini tidak diketemukan prasasti sebagai bukti adanya kekuasaan Majapahit. Hikayat-hikayat daerah yang ditulis kemudian, menyinggung adanya hubungan antara pelbagai daerah dan Majapahit dalam bentuk dongengan, dan bukan merupakan catatan sejarah khusus. Dongengan-dongengan tersebut menunjukkan sekedar kekaguman terhadap kebesaran dan keagungan Majapahit.

Selanjutnya silahkan membaca bagian ketiga

READ MORE....>>>